Fenomena golput dalam setiap rangkaian pelaksanaan pilkada di wilayah administratif Indonesia, menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan dan tentunya mengkhawatirkan. Bahkan sampai ada yang mengatakan golput memenangi beberapa pilkada di beberapa daerah karena jumlah orang yang memilih golput ternyata mengalahkan perolehan suara pemenang tingkat pertama contohnya di pilkada Jawa Timur, jumlah golputnya sebanyak 39% lebih sedang pasangan yang mendapat suara terbanyak hanya mengumpulkan suara dibawah 30%, pilkada di kota serang, golput mendapat persentase 39% sedang pasangan peraih suara terbanyak hanya 34% dari total pebduduk, pilkada DKI dengan jumlah pemilih golput sebanyak 39,2 persen atau 2.241.003 orang dari total 5.719.285 pemilih. Fauzi Bowo-Prijanto (pemenang) yang dicalonkan oleh banyak partai politik, termasuk Partai Golkar dan PDI-P, hanya meraih 2.010.545 atau 35,1 persen suara. Dan masih banyak lagi fakta-fakta riil di lapangan tentang sikap golput ini.
Dengan persentase yang cukup tinggi itu, maka kemudian permasalah ini harus diseriusi sebagai sebuah permasalahan kebangsaan yang penting di advokasi. Mahasiswa sebagai salah satu elemen dari rakyat ini harus mengambil perannya untuk mengadakan penyadaran politik kepada elemen bangsa lainnya termasuk di kalangannya sendiri. Itulah mengapa, kami dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat UNM Parangtambung menyuarakan penolakan kami kepada segenap niatan golput dan seruan golput yang dilancarkan oleh beberapa elemen bangsa termasuk suara pengajakan untuk golput yang lahir dari kawan-kawan mahasiswa sendiri.
Sebelum lebih lanjut, saya tekankan bahwa yang menjadi bahasan permasalahan kami adalah mereka yang memilih golput padahal memiliki hak suara/pilih yang telah disahkan oleh negara lewat KPU, siapapun itu dan dimanapun.
Beragam argumen telah dikeluarkan oleh para penyeru golput untuk melegitimasi atau mencari pembenaran terhadap sikap mereka. Ketahuilah bahwa itu semua adalah guyonan argumen pesimistis, apatis terhadap usaha membangun bangsa ini ke depannya. Rangkaian nalar berpikir yang tidak jauh kedepan memandang permasalahan kebangsaan.
Ketika mereka berkata bahwa golput adalah salah satu pilihan juga, maka saya beranggapan itu bukanlah pilihan. Itu bukan pilihan yang diberikan oleh rakyat ini kepada kalian. Logikanya begini; ketika dalam pemilihan itu ada 3 orang calon, maka sebenarnya itulah 3 calon yang diberi kehadapan anda untuk anda pilih, jadi selain dari pilihan 3 itu (tentunya golput) bukan termasuk pilihan.
Prosesi pemilihan umum di tingkatan apapun itu sesungguhnya adalah lahan kita untuk mengadakan perubahan terhadap nasib bangsa ini kedepannya. Momen inilah kita memilih pemimpin yang akan membawa perahu bangsa ini dalam masa kepemimpinannya. Dan dalam masa kepemimpinannya itulah akan dihasilkan banyak kebijakan untuk mensejahterakan, membela rakyatnya, yang pada masa suksesi pemilihannya menjadi pendukungnya. Dalam penggodokan produk pemerintahan itulah kita ‘mahasiswa’ bisa mengambil peran ‘politic control’ nya ketika ada kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Bukan pada saat prosesi pemilihan pemimpin itu kita bertindak bahkan tidak ikut memilih.
Kawan, sesungguhnya dalam proses pemilu itu, bukan perkara main-main, karena disanalah kita memilih pemimpin. Dalam setiap kondisi apapun kita akan membutuhkan kehadiran pemimpin, jadi jangan pernah menganggap remeh proses itu. Agama sangat memberi kita panduan bagaiman pentingnya dan urgennya posisi pemimpin itu.
Suara-suara golput yang dikeluarkan oleh elit-elit politik, saya lebih artikan sebagai sebuah upaya pendelegitimasian terhadap elit-elit lain yang telah memiliki jalan untuk meraih kedudukan. Kita bisa melihat orang-orang yang karena dengan banyak alasan terdeak dari sebuah strukturnya akan menyuarakan oposisi terhadap strukturnya kembali dan dengan pengajakan golput lah mereka bisa mengapresiasikannya. Hingga, jangan sampai ada di antara kita, ‘elit kampus’ yang termakan bahkan ikut-ikutan menyuarakan golput yang notabene hanya akan membantu elit politik sakit hati itu.
Saudaraku, hendaklah kita mengambil peran strategis kita dalam upaya perbaikan bangsa ini dengan jalan memberikan kesadaran berpolitik integratif kepada elemen rakyat, siapapun itu. Kita sebagai golongan yang diberi cap ‘intelek’, harus membuktikan keintelektualan itu dengan jalan partisipasi aktif kita dalam menghantarkan orang-orang shaleh ke puncak pengambil keputusan.
Kawan, sekecil apapun sikap pendukungan kita dalam percaturan politik ini, adalah sama besarnya dengan peradaban yang berkeadaban yang sama kita cita-citakan.
HIDUP RAKYAT, HIDUP MAHASISWA, ALLAHU AKBAR .....
BAGAIMANA (seharusnya) MAHASISWA MENYIKAPI FENOMENA GOLPUT
Label: KAMMI
“Secarik Catatan Pelaksanaan pra-DM I KAMMI Kom.UNM PARANGTAMBUNG”
Tepatnya, hari Sabtu tanggal 22 November 2008 di gedung perkuliahan Biologi Lantai I FMIPA UNM. Ikhwa KAMMI Kom.UNM Parangtambung sukses mengadakan pra-DM I, menjelang pelaksanaan DM I tanggal 28-30 November 2008 di benteng Somba Opu. Insya Allah....
Alhamdulillah, 8 ketua Komisariat (untuk Komisariat Poltekes diwakili Sekumnya, dan UMI Oleh Kadep Kebijakan Publiknya, yang lainnya langsung dihadiri oleh Ketumnya) hadir pada Stadium Generale (SG). Acara yang sempat molor 1 jam akhirnya sukses juga. Dari kegiatan tersebut, ana tergelitik untuk mengomentari satu hal berkenaan dengan apresiasi peserta pra-DM I yang mencapai 36 orang.
Seorang penanya memepermasalahkan definisi kata “aksi” dan kerja-kerja “aksi”, ikhwa dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Ternyata, definisi “aksi” masih mengalami pemaknaan yang sempit di tataran kawan-kawan mahasiswa. Aksi hanya diidentikkan dengan aksi turun ke jalan (demonstrasi.penulis).
Saat itu ana, memeberikan jawaban yang ditambahkan dan diperjelas teman-teman pemateri lainnya. Aksi adalah sebuah kata yang kaya akan makna. Aksi adalah aktifitas. Jadi, setiap tingkah laku manusia adalah aksi. Sehingga mau orang itu, shalat-mencuri, puasa-berbohong, ke masji-ke tempat hiburan malam, itu semuanya aksi. Itulah kemudian mengapa aksi itu selalu menjurus ke dua hal, apakah ke aksi yang positif atau yang ke negatif.
Aksi dalam sekop KAMMI adalah kebaikan. Bagaimana kemudian aksi itu bisa membawa sistem ke dalam ketundukan dan kepatuhan kepada Allah SWT.
Jikalau kawan-kawan lebih mendalam KAMMI maka akan didapatkan bahwa aksi yang dipakai teman-teman KAMMI bukanlah hanya turun ke jalan. Di KAMMI dikenal dengan aksi sosialnya, aksi penyadaran intelektual dan aksi pembentukan iklim Islami serta lain-lain.
Platform muslim negarawan yang menjadi falsafah perjuangan KAMMI menuntut setiap kader untuk memaknai perannya sebagai khalifah di muka bumi ini. Kader yang menjadi rahmatan lil alamin, dengan segenap aksi-aksinya. Apakah itu dengan turun ke jalan atau lainnya. Dan dengan turun ke jalan, apa salahnya???????
Intinya, saya mengajak teman-teman, adik-adik semuanya untuk mendalami KAMMI lebih jauh lagi. Untuk itu kutunggu kalian di perekrutan kader baru KAMMI, Daurah Marhalah I KAMMI Komisariat UNM Parangtambung, hari Jum’at-Ahad tanggal 28-30 November 2008.
Peradaban agung hanya dapat diciptakan oleh orang-orang berkepribadian besar. Dan salah satu jalannya adalah menjadi MUSLIM NEGARAWAN sejati.
Label: KAMMI